Showing posts with label Pertanian. Show all posts
Showing posts with label Pertanian. Show all posts

Wednesday, January 12, 2011

Manfaat Penggunaan Pupuk Organik

PUPUK ORGANIK
Peningkatan mutu intensifikasi selama tiga dasawarsa terakhir, telah melahirkan petani yang mempunyai ketergantungan pada pupuk yang menyebabkan terjadinya kejenuhan produksi pada daerah-daerah intensifikasi padi. Keadaan ini selain menimbulkan pemborosan juga menimbulkan berbagai dampak negatif khususnya pencemaran lingkungan. Oleh karena itu perlu upaya perbaikan agar penggunaan pupuk dapat dilakukan seefisien mungkin dan ramah lingkungan.

Peningkatan mutu intensifikasi selama tiga dasawarsa terakhir, telah melahirkan petani yang mempunyai ketergantungan pada pupuk yang menyebabkan terjadinya kejenuhan produksi pada daerah-daerah intensifikasi padi. Keadaan ini selain menimbulkan pemborosan juga menimbulkan berbagai dampak negatif khususnya pencemaran lingkungan. Oleh karena itu perlu upaya perbaikan agar penggunaan pupuk dapat dilakukan seefisien mungkin dan ramah lingkungan.

Adanya kejenuhan produksi akibat penggunaan pupuk yang melebihi dosis, selain menimbulkan pemborosan juga akan menimbulkan berbagai dampak negatif terutama pencemaran air tanah dan lingkungan, khususnya yang menyangkut unsur pupuk yang mudah larut seperti nitrogen (N) dan kalium (K).

Selain itu, pemberian nitrogen berlebih disamping menurunkan efisiensi pupuk lainnya, juga dapat memberikan dampak negatif, diantaranya meningkatkan gangguan hama dan penyakit akibat nutrisi yang tidak seimbang. Oleh karena itu, perlu upaya perbaikan guna mengatasi masalah tersebut, sehingga kaidah penggunaan sumber daya secara efisien dan aman lingkungan dapat diterapkan.
Efisiensi penggunaan pupuk saat ini sudah menjadi suatu keharusan, karena industri pupuk kimia yang berjumlah enam buah telah beroperasi pada kapasitas penuh, sedangkan rencana perluasan sejak tahun 1994 hingga saat ini belum terlaksana. Di sisi lain, permintaan pupuk kimia dalam negeri dari tahun ke tahun terus meningkat, diperkirakan beberapa tahun mendatang Indonesia terpaksa makin banyak mengimpor pupuk kimia. Upaya peningkatan efisiensi telah mendapat dukungan kuat dari kelompok peneliti bioteknologi berkat keberhasilannya menemukan pupuk organik yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia. Pengembangan industri pupuk organik mempunyai prospek yang cerah dan menawarkan beberapa keuntungan, baik bagi produsen, konsumen, maupun bagi perekonomian nasional.

Upaya pembangunan pertanian yang terencana dan terarah yang dimulai sejak Pelita pertama tahun 1969, telah berhasil mengeluarkan Indonesia dari pengimpor beras terbesar dunia menjadi negara yang mampu berswasembada beras pada tahun 1984. Namun di balik keberhasilan tersebut, akhir-akhir ini muncul gejala yang mengisyaratkan ketidakefisienan dalam penggunaan sumber daya pupuk. Keadaan ini sangat memberatkan petani, lebih-lebih dengan adanya kebijakan penghapusan subsidi pupuk dan penyesuaian harga jual gabah yang tidak berimbang.

Beberapa penelitian yang menyangkut efisiensi penggunaan pupuk, khususnya yang dilakukan oleh kelompok peneliti bioteknologi pada beberapa tahun terakhir, sangat mendukung upaya penghematan penggunaan pupuk kimia. Upaya tersebut dilakukan melalui pendekatan peningkatan daya dukung tanah dan/atau peningkatan efisiensi produk pupuk dengan menggunakan mikroorganisme. Penggunaan mikroorganisme pada pembuatan pupuk organik, selain meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, juga akan mengurangi dampak pencemaran air tanah dan lingkungan yang timbul akibat pemakaian pupuk kimia berlebihan.
Industri pupuk organik saat ini mulai tumbuh dan berkembang, beberapa perusahaan yang bergerak dibidang pupuk organik cukup banyak bermunculan, antara lain seperti ; PT Trimitra Buanawahana Perkasa yang bekerjasama dengan PT Trihantoro Utama bersama Pemda DKI Jakarta dan Pemkot Bekasi yang saat ini akan mengolah sampah kota DKI Jakarta, PT Multi Kapital Sejati Mandiri yang bekerjasama dengan Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) dan Pemda Kabupaten Brebes Jawa Tengah yang mengolah sampah kota dan limbah perdesaan. PT PUSRI selain memproduksi pupuk kimia, saat ini bersama PT Trihantoro Utama dan Dinas Kebersihan Pemda DKI Jakarta juga memproduksi pupuk organik. Sampah dan limbah organik diolah dengan menggunakan teknologi modern dengan penambahan nutrien tertentu sehingga menghasilkan pupuk organik yang berkualitas.

Penggunaan pupuk organik bermanfaat untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia, sehingga dosis pupuk dan dampak pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk kimia dapat secara nyata dikurangi. Kemampuan pupuk organik untuk menurunkan dosis penggunaan pupuk konvensional sekaligus mengurangi biaya pemupukan telah dibuktikan oleh beberapa hasil penelitian, baik untuk tanaman pangan (kedelai, padi, jagung, dan kentang) maupun tanaman perkebunan (kelapa sawit, karet, kakao, teh, dan tebu) yang diketahui selama ini sebagai pengguna utama pupuk konvensional (pupuk kimia). Lebih lanjut, kemampuannya untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan terbukti sejalan dengan kemampuannya menurunkan dosis penggunaan pupuk kimia.

Beberapa hasil penelitian di daerah Pati, Lampung, Magetan, Banyumas, organik terbukti dapat menekan kebutuhan pupuk urea hingga 100 persen, TSP/SP36 hingga 50 persen, kapur pertanian hingga 50 persen. Biaya yang dihemat mencapai Rp. 50.000/ha, sedangkan produksi kedelai meningkat antara 2,45 hingga 57,48 persen. Keuntungan yang diperoleh petani kedelai naik rata-rata p. 292.000/ha, terdiri dari penghematan biaya pemupukan sebesar Rp. 50.000/ha, dan kenaikan produksi senilai Rp. 242.000/ha (Saraswati et al., 1998).

Aplikasi pupuk organik yang dikombinasikan dengan separuh takaran dosis standar pupuk kimia (anorganik) dapat menghemat biaya pemupukan. Pengujian lapang terhadap tanaman pangan (kentang, jagung, dan padi) juga menunjukkan hasil yang menggembirakan, karena selain dapat menghemat biaya pupuk, juga dapat meningkatkan produksi khususnya untuk dosis 75 persen pupuk kimia (anorganik) ditambah 25 persen pupuk organik (Goenadi et. al., 1998). Pada kombinasi 75 persen pupuk kimia (anorganik) ditambah 25 persen pupuk organik tersebut biaya pemupukan dapat dihemat sebesar 20,73 persen untuk tanaman kentang ; 23,01 persen untuk jagung ; dan 17,56 persen untuk padi. Produksi meningkat masing-masing 6,94 persen untuk kentang, 10,98 persen untuk jagung, dan 25,10 persen untuk padi. Penggunaan pupuk organik hingga 25 persen akan mengurangi biaya produksi sebesar 17 hingga 25 persen dari total biaya produksi.

Dengan adanya diversifikasi produk dari pupuk organik ini maka prospek pengembangan industri pupuk organik ke depan akan semakin menguntungkan sehingga lahan pekerjaan baru akan semakin luas.

Sumber : http://www.biotek.lipi.go.id
Posting : Tuesday, 30 November 1999

Saturday, December 18, 2010

Usaha Pertanian Sehat Layak Dikembangkan

Rabu, 01 Desember 2010 16:44 WIB

PRODUK pertanian yang kita gunakan selama ini hasil dari sistem pertanian konvensional yang di dalamnya kegiatan proses produksi mengikutsertakan bahan anorganik dengan tujuan mendapatkan hasil yang tinggi.

Penggunaan pupuk dan pestisida kimia pada pertanian konvensional yang terus menerus dan melebihi dosis yang diperlukan ternyata sudah menjadi kebiasaan petani Indonesia pada umumnya. Hal ini berakibat fatal bagi pertanian Indonesia. Setiap musim tanam di suatu daerah pertanian sering terdengar kabar adanya gagal panen karena tingginya serangan hama-penyakit.

Pemberian pupuk yang tidak mengenal takaran mengakibatkan lahan menjadi tidak subur dan terjadi pengerasan lapisan olah. Selain itu juga terjadi polusi air dan udara. Hal lain yang ditakutkan konsumen adalah adanya residu pestisida kimia pada produk pertanian yang akan dimanfaatkan.

Oleh karena itu keadaan tersebut perlu disadari oleh konsumen dan pemerhati lingkungan hidup serta para petani agar secara bertahap dapat mulai menerapkan cara budi daya yang alami dan menggunakan bahan-bahan alami dalam proses produksinya melalui usaha pertanian sehat yang bebas dari bahan kimia dan tanpa merugikan kesehatan.

Karenanya berdasarkan keprihatinan akan pengunaan zat kimia yang berlebihan pada pertanian sehingga dapat merusak lingkungan maka perlu adanya gerakan untuk menerapkan pertanian sehat untuk dikembangkan agar hidup menjadi sehat.

Pertanian sehat adalah proses budidaya tanaman yang memprioritaskan pada penggunaan bahan-bahan alami yang ramah lingkungan, mudah dan murah untuk mendapatkannya dengan tetap menjaga produktifitas dan kualitas hasil pertanian. Tujuannya adalah menghilangkan ketergantungan petani terhadap penggunaan sarana pertanian kimia sintetik dengan tetap menjaga tingkat produktivitas pertanian mereka, mengembalikan kesuburan dan kesehatan lahan pertanian, melestarikan keanekaragaman hayati pada ekosistem pertanian dan mengembangkan kreativitas dan kemampuan petani dalam mengelola usaha taninya.

Membandingkan pertanian konvensional yang cenderung mengeluarkan biaya tinggi dan tidak ramah lingkungan dengan pertanian sehat, maka usaha untuk menerapkan pertanian sehat berpeluang layak untuk dikembangkan. Berdasarkan analisis finansial maupun ekonomi menunjukkan bahwa ada beberapa faktor usaha pertanian sehat layak untuk dikembangkan yaitu:

1. Harga beras hasil pertanian sehat lebih tinggi dibandingkan beras pertanian konvensional, sehingga apabila hasil panen dijual dalam bentuk beras keuntungannya lebih besar.

2. Dalam jangka panjang usaha tersebut menghemat biaya produksi karena penggunaan pupuk organik dapat memperbaiki kesuburan tanah, sehingga para petani tidak bergantung pada pupuk kimia yang harganya semakin mahal.

3. Penggunaan bahan kimia yang relatif lama akan berpengaruh tidak baik bagi kesehatannya sendiri maupun orang lain sehingga dengan memproduksi padi pertanian sehat diharapkan dapat meningkatkan kesehatan konsumen beras.

Andi Perdana Gumilang, S.Pi

Tim Markom Lembaga Pertanian Sehat


Sumber :www.mediaindonesia.com

Tuesday, November 23, 2010

Menuju Pertanian Organik

Jakarta - Kebutuhan pangan di Indonesia dan dunia terus meningkat setiap tahunnya karena pertambahan penduduk. Sejak tahun 1960-an revolusi hijau pun dilakukan sebagai usaha meningkatkan produktivitas pertanian. Berbagai macam usaha seperti penggunaan pupuk kimia, pestisida kimia, maupun penggunaan varietas tertentu dilakukan untuk mencapai produksi yang diinginkan.

Puncaknya pada tahun 1980-an Indonesia menyatakan dirinya sebagai negara yang berswasembada beras. Prestasi ini hanya berjalan lima tahun. Namun, masih berdampak hingga sekarang.

Kondisi lingkungan berubah drastis akibat gebrakan revolusi hijau. Penggunaan bahan kimia seperti pupuk dan pestisida dilakukan tanpa mempertimbangkan kerusakan yang terjadi dampak negatifnya bagi manusia dan lingkungan. Dosis pupuk kimia yang terus meningkat menyebabkan kondisi tanah mengalami penurunan kualitas kesuburan. Tanah menjadi keras dan keseimbangan unsur hara maupun mikroorganisme tanah terganggu.

Selain penggunaan pupuk kimia yang berlebihan pestisida kimia juga diberikan tanpa pertimbangan lingkungan. Penggunaan pestisida kimia yang kurang bijak ini menimbulkan dampak buruk bagi ekosistem maupun kesehatan manusia.

Ekosistem dan habitat makhluk hidup terganggu karena pestisida kimia yang diberikan tidak hanya mematikan hama sasaran. Tetapi, juga binatang lain yang berfungsi sebagai predator dan pengendali lingkungan. Hal ini menyebabkan timbulnya serangan hama terus menerus dan terbentuknya hama yang tahan terhadap pestisida kimia.

Menyoal Pertanian "Kimia"
Pertanian "kimia" atau lebih dikenal pertanian konvensional yang menggunakan bahan kimia tambahan berupa pupuk dan pestisida juga berdampak pada masalah ekonomi petani. Biaya produksi semakin tinggi akibat penggunaan input yang terus meningkat tanpa adanya perubahan yang signifikan pada hasil. Hal ini akan mempengaruhi pada rendahnya tingkat kesejahteraan petani.

Selain itu yang harus diingat pertanian konvensional ini tidak terlepas dari dampak negatif untuk jangka panjang. Menurut Schaller (1993), beberapa dampak negatif dari pertanian konvensional adalah:

1. Pencemaran air tanah dan air permukaan oleh bahan kimia pertanian.
2. Membahayakan kesehatan manusia dan hewan. Baik karena pestisida kimia maupun bahan aditif pakan.
3. Pengaruh negatif senyawa kimia pada mutu dan kesehatan makanan.
4. Penurunan keanekaragaman hayati termasuk sumber genetik flora dan fauna yang merupakan modal utama pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture).
5. Meningkatnya daya tahan (resistent) organisme pengganggu terhadap pestisida kimia.
6. Merosotnya daya produktivitas lahan karena erosi, pemadatan lahan, dan berkurangnya bahan organik.
7. Ketergantungan yang makin kuat terhadap sumber daya alam yang tidak terbaharui (non-renewable natural resources).
8. Risiko kesehatan dan keamanan manusia pelaku pekerja pertanian.

Dari sekian banyak bahaya pertanian "kimia" tersebut tentunya mengusik hati nurani kita untuk bisa menghindarinya. Anehnya bahaya ini sudah disadari kita selama bertahun-tahun. Namun, perilaku berdampak negatif tersebut masih saja dilakukan oleh pelaku pertanian di Indonesia.

Ada dua dampak negatif yang berkaitan langsung dengan ekonomi petani. Pertama, pertanian "kimia" telah merosotkan nilai ekonomi petani. Penggunaan bahan kimia semakin lama akan semakin banyak karena daya resistensi hama pengganggu semakin kuat alias kebal. Belum lagi biaya perawatan lahan karena berkurangnya bahan organik yang jelas dibutuhkan tanaman, perbaikan karena erosi, pemadatan tanah, dan kesehatan petani yang rawan karena berinteraksi dengan bahan kimia setiap hari.

Semua ini tentu meningkatkan biaya produksi dan pengeluaran petani sehingga akan berdampak pada kesejahteraan petani. Adanya tingkat kesejahteraan yang rendah menimbulkan anggapan bahwa pertanian kurang menguntungkan, membutuhkan tenaga yang cukup besar, namun hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan kerja yang dilakukan.

Hal ini yang menjadi alasan alih profesi warga desa dari petani menjadi pekerja dalam bidang non pertanian. Berbagai konversi lahan menjadi pabrik dan industri juga berpengaruh nyata terhadap pertanian di Indonesia. Dampak konversi lahan ini tidak hanya penurunan luas lahan subur secara tidak langsung juga meningkatkan alih profesi dari petani menjadi buruh pabrik.

Kedua, ini yang paling membahayakan yaitu menimbulkan mental ketergantungan petani terhadap pupuk dan pestisida kimia. Serta mengandalkan bantuan pemerintah. Daya kreativitas petani seolah-olah mati terkubur bersama harapan turunnya harga pupuk dan pestisida kimia atau berharap ada subsidi dari pemerintah. Padahal sejak zaman dahulu kala kita tahu "nenek moyang" petani kita adalah orang-orang yang kreatif memanfaatkan sumber daya alam.

Bahan-bahan alami dari tumbuhan diramu untuk bisa dimanfaatkan sebagai pembasmi hama sehingga bisa menjadi pestisida nabati, pupuk kompos yang juga untuk penyubur tanaman. Hasilnya muncullah buah organik, sayuran organik, dan beras organik yang semuanya melalui perlakuan ramah lingkungan sehingga dikonsumsi lebih sehat.

Kalau kedua hal di atas terus kita biarkan bukan tidak mungkin petani kita akan masuk jurang kemiskinan yang tak berkesudahan. Hidup dengan pendidikan rendah, ekonomi melarat, hidup penuh dengan hutang, harapan hidup anak cucu sebagai penyambung generasi hanya tinggal pasrah pada nasib.

Solusi Alternatif: Konsep Pertanian Organik
Sistem pertanian organik pada mulanya berkembang di negara-negara Eropa, Amerika, dan Asia Timur (Korea, Jepang, dan Taiwan). Di China, pertanian organik ini berkembang sebelum pupuk kimia tersebar luas pada tahun 1960. Namun, dengan adanya revolusi hijau, sistem ini mulai ditinggalkan karena kalah bersaing dengan pertanian modern yang saat itu mampu menunjukkan peningkatan produksi yang cukup tinggi.

Isu mengenai pertanian organik akhir-akhir ini mulai berkembang kembali dengan semakin banyaknya masyarakat yang menyadari pentingnya kesehatan dan mutu bahan pangan yang dikonsumsi. Residu bahan kimia pada pertanian intensif dapat menimbulkan dampak yang kurang baik bagi kesehatan. Selain alasan kesehatan pertanian organik ini juga diyakini ramah lingkungan karena meminimalkan bahkan tidak menggunakan bahan kimia dalam proses produksi.

Pada dasarnya pertanian organik ini menganut sistem pengembalian yang berarti mengembalikan semua bahan organik yang dihasilkan ke dalam tanah. Baik dalam bentuk limbah pertanaman maupun ternak. Bahan organik ini selanjutnya dapat terurai menjadi unsur hara organik yang dapat meningkatkan kesuburan tanah dan mengembalikan keseimbangan unsur hara dalam tanah.

Keuntungan dari sistem pertanian organik selain meningkatkan kesuburan tanah dan produksi tanaman maupun ternak yaitu mampu mendukung keseimbangan ekosistem. Dari segi ekonomi dapat mengurangi biaya penggunaan bahan-bahan kimia seperti pupuk dan pestisida. Produk organik seperti buah, sayuran, dan beras juga memiliki harga yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan produk pertanian intensif atau kimia.

Penggunaan pupuk organik sebagai pengganti pupuk kimia telah mampu meningkatkan hasil produksi dalam jangka waktu yang singkat. Terkadang hasil yang diperoleh menjadi maksimal dan pemberantasan hama secara terpadu dapat mengurangi dampak serangan hama yang semakin meningkat akibat penggunaan pestisida kimia sebelumnya.

Peralihan sistem konvensional menjadi organik secara menyeluruh di Indonesia ini memerlukan waktu yang cukup lama untuk memperbaiki kualitas lingkungan yang telah rusak akibat revolusi hijau. Oleh karena itu diperlukan kerja sama yang baik antar petani dan dukungan dari pemerintah.

Berbagai penyuluhan diperlukan agar dapat mengubah cara pandang petani mengenai pertanian organik yang berkelanjutan sehingga dengan solusi pertanian organik petani kecil secara keseluruhan dapat menerapkannya untuk mengurangi biaya operasional akibat kenaikan harga pupuk dan pestisida kimia yang melambung tinggi. Maka saatnya beralih ke pertanian organik secara berkelanjutan sebagai alternative solusi menghadapi kenaikan harga.

Andi Perdana Gumilang SPi
Tim Markom Lembaga Pertanian Sehat dan Alumni IPB
www.pertaniansehat.or.id
andi.sangpenakluk@gmail.com
081324010428

Sumber:Detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Yuyun Lusini, M.Si, Hp. 081316300285
Ir. Nurul Asni, M.Si, Hp. 08128526140


Jl. Tugu RayaKomplek Timah, Kelapa Dua Cimanggis, Depok – 16951Telp. : (021) 8710001, Fax.: (021) 8728523 Email : akacaraka@yahoo.co.id Website : www.akacn.ac.id