Showing posts with label Makanan. Show all posts
Showing posts with label Makanan. Show all posts

Tuesday, February 22, 2011

BBPOM periksa 4 zat kimia dalam buavanta | Kasus Keracuran

BBPOM periksa 4 zat kimia dalam buavanta

Warta
Indra Widyastuti
Reposter in Training
WASPADA ONLINE

MEDAN - Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Sumut telah memeriksa empat zat kimia pada minuman ringan buavanta, yang diduga menjadi penyebab meninggalnya seorang bocah bernama Salefina Natalia Datchi. Namun, belum ditemui adanya indikasi zat berbahaya di dalamnya.

Kepala Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi BPOM Sumut, Sacramento Tarigan mengatakan, keempat zat kimia tersebut adalah logam berat, sianida, rosen dan nitrit. Keempat zat itu diperiksa karena menurut analisis ada gejala dugaan keracunan zat berbahaya tersebut. “Kemasannya juga kita periksa, kita ambil semua untuk pengujian bersama untuk memastikan apakah ada temuan disuatu tempat atau tempat tertentu atau sama sekali tidak ada,” katanya.

Dia menambahkan, pemeriksaan itu sebenarnya akan siap dalam sehari, namun sejauh ini, setelah dievaluasi belum ada ditemui tanda-tanda yang mengandung zat berbahaya. “Memang hasil kordinasi dari dokter, anak yang meninggal itu sudah mulai muntah-muntah dari rumah, ditempat perawatanpun masih muntah-muntah. Menurut dokter, gejalanya seperti keracunan. Tapi, sejauh ini belum ada kita temui zat berbahaya,” ungkapnya.

Menurut Sacramento, pihaknya akan terus berkordinasi dengan instansi terkait untuk mencari masalah dan kearah mana penyebabnya, sehingga
bisa memfokuskan program pencegahan kedepannya. “Tetap kita kordinasikan ke Dinkes, supaya datanya melengkapi. Terutama soal pengawasan IRT di Medan. Sebab, selama ini pembinaan IRT dalam produk olahan masih lemah,” pungkasnya.

Editor: PRAWIRA SETIABUDI
(dat03/wol)


Sumber : www.waspada.co.id

Wednesday, January 12, 2011

JAJANAN ANAK SEKOLAH MENGANDUNG BAHAN KIMIA BERBAHAYA

JAJANAN ANAK SEKOLAH MENGANDUNG BAHAN KIMIA BERBAHAYA

Jakarta, 12/1/2010 (Kominfo-Newsroom) - Hasil survei Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terhadap jajanan anak sekolah di 4.500 sekolah dasar di Indonesia menyatakan bahwa antara 3-20 persen jajanan anak sekolah masih mengandung bahan kimia berbahaya.

Hal itu diungkapkan Menteri Kesehatan RI, Endang Rahayu Sedyaningsih, saat meninjau mobil laboratorium pengawas jajanan anak sekolah di Sekolah Dasar (SD) Menteng Dalam 02 Pagi, Jakarta, Selasa (12/1).

Menurut Menkes, bahan kimia yang terkandung dalam makanan jika tertumpuk dalam tubuh akan membahayakan kesehatan.

“Kalau sedikit demi sedikit tertumpuk dalam tubuh akan sangat membahayakan, untuk itu mobil laboratorium pengawas jajanan anak sekolah di sekolah dasar ini menjadi salah satu cara untuk mencek apakah betul makanan itu positif mengandung bahan kimia berbahaya,” kata Menkes.

Menurutnya, jika jajanan itu dijual di kantin sekolah, maka masih dapat dilakukan pembinaan dan pengawasan, tetapi masalah terjadi, terutama ketika jajanan tersebut berada di luar sekolah, karena akan sulit mengawasinya.

“Untuk itu, memberikan pengertian kepada anak-anak sangat penting dilakukan supaya mereka tidak membelinya,” katanya.

Sementara itu Husniah Rubiana Thamrin Akib dari BPOM yang mendampingi Menkes menjelaskan, mobil pengawasan jajanan anak sekolah ini baru ada di enam kabupaten/kota, yaitu di Kota Serang, Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta dan Semarang. Pengawasan di luar enam daerah itu dilakukan dengan melibatkan laboratorium BPOM yang ada di seluruh Indonesia.

“Banyak bahan makanan yang dibuat untuk jajanan anak-anak yang mengandung bahan berbahaya, misalnya zat pewarna, boraks dan formalin. Survei yang dilakukan di 4.500 sekolah dasar, jananan tersebut mengandung sekitar 3-20 persen bahan berbahaya yang hasilnya bervariasi di masing-masing daerah,” kata Husniah.

Untuk meneliti masalah tersebut, katanya, maka kemudian dioperasikan mobil laboratorium pemeriksaan jajanan anak sekolah guna memeriksa kandungan bahan kimia berbahaya pada sampel jajanan anak sekolah dan memberikan penyuluhan kepada pihak sekolah dan pedagang.

Untuk tahun 2010, katanya menambahkan, ada 22 mobil laboratorium pengawasan makanan yang tersebar di Pulau Jawa dan NTB, yang pengadaannya berasal dari dana APBN. BPOM, menurutnya, sebelumnya telah mengusulkan pengadaan sebanyak 140 unit. (T.Jul/ysoel)

Sumber : Depkominfo
Sumber Foto : MediaIndonesia.com

Monday, January 10, 2011

Plastik Pintar Pendeteksi Makanan Basi

Liputan6.com, London: Ilmuwan Inggris berhasil menciptakan kemasan plastik pembungkus makanan yang akan berubah warna ketika kualitas makanan sudah tidak layak makan atau basi. Seperti dilansir Zee News, baru-baru ini, plastik pintar tersebut dapat mendeteksi kualitas bahan makanan seperti daging, ikan ataupun sayuran dengan cara mengubah warnanya.

Plastik ini juga akan berubah warna jika segel plastik rusak. Penemuan ini akan sangat membantu untuk mengurangi limbah rumah tangga serta membantu mengingatkan para ibu untuk mencegahnya dari membuang-buang makanan. Plastik ini bekerja dengan mendeteksi kadar oksigen yang ada di dalamnya. Semakin tinggi kadar oksigen maka semakin buruk kualitas makanan yang tersimpan di dalamnya.

"Limbah rumah tangga akan merusak lingkungan. Kami berharap hasil penelitian ini akan membantu orang-orang terhindar dari makanan yang tidak layak untuk dimakan serta mencegah bertambahnya limbah rumah tangga," kata pimpinan penelitian, Profesor Andrew Mills.(DSC/ANS)

Sumber : http://tekno.liputan6.com

Stop Konsumsi Makanan Siap Saji

Alasan Baru Stop Konsumsi Makanan Siap Saji

Studi: pembungkus makanan cepat saji sama berbahayanya dengan makanan 'sampah' itu sendiri

VIVAnews - Masih berpikir mampir ke gerai makanan cepat saji setelah lelah belanja atau berjalan-jalan di mal? Pertimbangkan kembali sebelum ikut mengantre. Studi baru-baru ini menunjukkan, pembungkus makanan cepat saji sama berbahayanya dengan makanan 'sampah' itu sendiri.

Kertas pembungkus makanan siap saji mengandung racun perfluoroalkali yang mencemari darah. Perfluoroalkali adalah racun kimia sintesis untuk melapisi permukaan agar tidak dapat bocor akibat minyak, gemuk atau air.

Penelitian University Toronto menyatakan, timbunan fosfat polyfluoroalkil (Pap) atau pecahan asam karboksilat perfluorinated (PFOA) pada pembungkus makanan menyebabkan kencing darah. Dari penelitian diketahui bahan kimia beracun ini dapat dideteksi pada hampir semua orang di Amerika Serikat.

Selain kemasan makanan dan pembungkus makanan cepat saji, sumber paparannya meliputi pelindung air minum, debu, udara, karpet dan kain, pembunuh api, panci dan wajah anti-lengket hingga penghilang noda pakaian. Selain di darah, racun ini bahkan terdapat dalam air susu ibu.

Studi sebelumnya menyebut panci dan wajan anti lengket sumber paling umum racun turunan PFC. Bukti terbaru mengungkap, kertas plastik makanan siap saji adalah sumber utama lainnya.

Dalam penelitian terhadap hewan, PFOA dikaitkan dengan bahaya kesehatan seperti:
1. Kelahiran prematur pada janin tikus namun tidak berpengaruh pada ibu.

2. Perubahan berat pada berbagai organ, termasuk otak, prostat, hati, timus dan ginjal.

3. Kematian sejumlah besar anak tikus dengan ibu yang terkena PFOA.

4. Kerusakan hipofisis, pengatur pertumbuhan dan reproduksi, pada semua keturunan tikus betina.

5. Tumbuhnya tumor dalam jangka panjang.

6. Masalah sistem kekebalan tubuh.

7. Meningkatkan kadar kolesterol LDL atau kolesterol jahat.

• VIVAnews

Sumber : http://kosmo.vivanews.co

Saturday, January 8, 2011

Status Keamanan Mi Instan: Kasus Nipagin

Jakarta - Pertanyaan sekitar status keamanan Bahan Tambahan Pangan (BTP) Nipagin pada produk mie instan di Indonesia sekarang ini sedang ramai. Hal ini dipicu oleh peristiwa di Taiwan, di mana produk instan asal Indonesia ditarik karena mengandung BTP pengawet yang dianggap berbahaya.

Apa itu Nipagin?

Nipagin adalah nama dagang untuk senyawa metil hidroksi benzoat, yaitu senyawa ester metil dari asam p-hidroksibenzoat. Senyawa ini merupakan bahan tambahan pangan senyawa turunan asam benzoat, yang berfungsi sebagai bahan antimikroba atau pengawet. Senyawa ini sering juga dikenal dengan nama metil paraben.

Secara alami, senyawa benzoat termasuk beberapa esternya bisa ditemukan pada buah-buahan; terutama buah kranberi (cranberries). Selain itu, senyawa benzoat secara alami juga bisa ditemukan pada jamur, kayu manis, dan cengkeh. Untuk keperluan komersial; asam benzoat ini disintesis secara kimia dan kemudian diubah menjadi ester melalui reaksi esterifikasi, di antaranya menjadi metil hidroksi benzoat.

Dalam praktiknya; terdapat beberapa jenis ester dari hidroksi benzoat; di antaranya adalah ester metil (-CH3), etil (-C2H5), propil (C3H7) dan butil (C4H9) hidroksi benzoat. Sebagai pengawet; semakin panjang rantai C, maka senyawa tersebut akan mempunyai efektivitas antimikroba yang semakin tinggi. Namun demikian; sebagai BTP pengawet; senyawa yang paling banyak ditemukan adalah metil dan/atau etil hidroksi benzoat. Dan BTP pengawet yang saat ini sedang diributkan adalah metil hidroksi benzoat, atau nipagin.

Status Nipagin Sebagai Pengawet

Faktor keamanan pangan merupakan merupakan prasyarat universal bagi mutu pangan yang baik. Dengan kata lain, untuk produk pangan, tidak ada artinya berbicara citarasa dan nilai gizi, atau pun sifat fungsional yang bagus, tetapi produk tersebut tidak aman untuk dikonsumsi.

Persyaratan yang sama juga berlaku bagi kajian tentang BTP, seperti pengawet. Karena itu, setiap valon BTP, baik yang diekstrak dari sumber alam atau pun disintesis; harus terlebih dahulu dilakukan kajian keamanan secara ketat. Untuk melakukan kajian keamanan suatu BTP ini dilakukan oleh otoritas keamanan pangan di berbagai negara.

Di Indonesia, kajian keamanan BTP ini dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM, RI). Penggunaan BTP secara aman di Indonesia diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No 722/Menkes/Per/rX/88 tentang Bahan Tambahan Makanan. Dalam peraturan tersebut jelas bahwa nipagin (metil-p-hidroksi benzoat) adalah termasuk sebagai bahan pengawet yang diizinkan penggunaannya untuk bahan pangan tertentu; antara lain pada produk acar ketimun dalam botol dan kecap (dengan batas maksimum 250 mg/kg), ekstrak kopi cair (dengan batas maksimum 450 mg/kg), serta pasta tomat dan sari buah (dengan batas maksimum 1 g/kg).

Di Uni Eropa –misalnya- suatu senyawa diizinkan pemakaiannya sebagai BTP jika panel ahli telah melakukan kajian dan mendapatkan bukti-bukti ilmiah yang menyakinkan bahwa bahan tersebut aman dan pemakaiannya memberikan manfaat bagi masyarakat. Badan yang bertugas melakukan evaluasi keamanan untuk bahan tambahan pangan di Uni Eropa ini adalah European Food Safety Authority (EFSA; http://www.efsa.europa.eu/). Jika dalam kajiannya diyakini bahwa senyawa tersebut aman dan bermanfaat pemakaiannya; maka senyawa tersebut akan dimasukkan dalam daftar BTP yang diizinkan; dan diberikan nomor dengan kode huruf E di depannya.

Daftar bahan tambahan yang diizinkan penggunaannya oleh Uni Eropa; bisa dilihat di http://www.food.gov.uk/safereating/chemsafe/additivesbranch/enumberlist. Untuk nipagin, panel ahli EFSA telah melakukan bahwa pemakaiannya sebagai BTP adalah aman, dan oleh otoritas keamanan pangan Uni Eropa nipagin diberikan kode E218.

Pada tahun 2004, Otoritas Keamanan Pangan Uni Eropa (EFSA) melalui Panel Ahli (The Scientific Panel on Food Additives, Flavourings, Processing Aids and Materials in Contact with Food) kembali melakukan kajian keamanan nipagin; dengan mempertimbangkan data-data terbaru. Hasil kajian dari EFSA ini dituangkan dalam bentuk opini ilmiah EFSA yang dikeluarkan pada bulan September 2004. Secara lengkap; opini ilmiah ini bisa diunduh dari http://www.efsa.europa.eu/en/scdocs/scdoc/83.htm.

Salah satu hasil penting dari kajian ini adalah penegasan kemabli tentang status aman bagi nipagin (metil hidroksi benzoat) sebagai pengawet, dengan ADI (Acceptable Daily Intake) sampai 10 mg/kg berat badan per hari. Kajian yang sama juga dilakukan oleh berbagai otoritas keamanan pangan di berbagai negara; antara lain Amerika, Kanada, Singapura dan lain-lain.

Di Amerika, nipagin atau metil paraben bahkan dimasukkan dalam kategori GRAS (generally regarded as safe) untuk pengawet pangan http://www.accessdata.fda.gov/scripts/fcn/fcnDetailNavigation.cfm?rpt=scogsListing&id=210). Demikian juga dengan standar BTP yang dikeluarkan oleh Codex Alimentarius Commission (CAC) -badan standar pangan dunia (FAO/WHO)-. CAC telah mengadopsi dan selalu merevisi adanya standar bahan tambahan pangan dengan terbitnya Codex General Standard for Food Additives (http://www.codexalimentarius.net//download/standards/4/CXS_192e.pdf).

Standar ini pertama kali diadopsi pada tahun 1995; dan direvisi tahun 1997, 1999, 2001, 2003, 2004, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009 dan terakhir 2010). Pada standar mutakhir tersebut, CAC mengizinkan penggunaan nipagin (dengan nomor INS 218) untuk beberapa jenis produk pangan; termasuk untuk kecap dengan batas maksimum 1.000 mg/kg. Secara khusus, standar penggunaan nipagin untuk berbagai produk pangan ini baru diadopsi oleh CAC antara tahun 2009-2010; yang bararti bahwa kajian keamanannya telah mempertimbangkan berbagai data keamanan mutakhir. Dengan demikian, jelas bahwa otoritas keamanan pangan berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia, dan bahkan lembaga Internasional (CAC) telah menyatakan bahwa penggunaan metil hidroksi benzoat untuk pengawet adalah aman.

Bagaimana Dengan Kasus Mie Instan?

Telah dijelaskan bahwa dari sisi keamanan pangan; banyak otoritas keamanan pangan di berbagai negara di dunia; termasuk Uni Eropa dan bahkan CAC telah menyatakan bahwa metil hidroksi benzoat adalah salah satu bahan pengawet yang aman digunakan. Kenapa kasus penggunaan nipagin pada kecap (sebagai bumbu) pada produk mie instan sekarang dihebohkan?

Kehebohan ini ini memang dipicu dengan peristiwa di Taiwan, di mana produk instan asal Indonesia ditarik karena mengandung BTP pengawet yang dianggap berbahaya. Pelarangan oleh otoritas keamanan pangan Taiwan terhadap penggunaan metil hidroksi benzoat merupakan kebijakan negara yang bersangkutan. Pada dasarnya, penetapan izin penggunaan BTP beserta batas maksimum perlu mengacu pada prinsip analisis risiko; yang dilakukan oleh masing-masing negara. Sebagai acuan; berbagai negara menggunakan peraturan dan standar keamanan pangan yang dikeluarkan oleh Codex Alimentarius Comimission (CAC). Dalam hal ini, kebijakan Taiwan ini jelas berbeda dengan peraturan yang dikeluarkan oleh CAC.

Teorinya; jika suatu negara mengeluarkan peraturan yang lebih ketat daripada aturan CAC; maka negara tersebut harus menunjukkan secara transparan hasil studinya; dengan menggunakan pendekatan analisis risiko yang valid. Sampai saat ini, tidak jelas apakah Taiwan telah melakukan analisis risiko itu atau belum. Namun demikian, mengingat bahwa Taiwan bukanlah negara anggota CAC, tuntutan transparansi tentang hasil studi tersebut sulit dilakukan. Tidak adanya analisis risiko yang dipublikasikan ini telah menyebabkan sulitnya melakukan cek silang tentang kebenaran klaim ketidak-amanan metil hidroksi benzoat sebagai BTP pengawet ini.

Jadi, mengacu pada kajian dan peraturan keamanan pangan dari EFSA, CAC, US FDA dan termasuk Indonesia; maka penggunaan metil hidroksi benzoat sebagai BTP adalah aman; asalkan penggunaannya tidak melewati batas maksimum yang ditetapkan. Sebagai ilustrasi; berikut adalah perhitungan sederhana tentang keamanan mie instan, dalam kaitannya dengan nipagin. Mengacu pada penetapan ADI (Acceptable Daily Intake) nipagin (metil hidroksi benzoat; E218) oleh EFSA sebesar 10 mg/kg berat badan per hari, maka seseorang dengan berat badan 50 kg dapat mengkonsumsi sebanyak 500 mg nipagin per harinya tanpa ada pengaruh kesehatan apapun.

Kemudian, mengacu pada batas maksimum penggunaan nipagin pada kecap oleh BPOM adalah 250 mg/kg; dan 1 pak mie instan mengadung sekitar 4 gram kecap; maka jumlah 500 mg nipagin itu akan tercapai jika seseorang tersebut mengkonsumsi sebanyak 500 bungkus mi instan setiap hari. Jelas sulit sekali seseorang untuk mencapai jumlah konsumsi tersebut.

Terlihat bahwa jika digunakan dalam batas-batas penggunaan sesuai dengan peraturan yang seperti sekarang ini; maka keamanan penggunaan nipagin bisa dijamin. Kata kuncinya jelas adalah pada disiplin dan tanggung jawab produsen dan pengawasan pemerintah yang efektif.

Saran Untuk Konsumen

Memang tuntutan kepraktisan dan ketersediaan waktu yang semakin sempit karena kesibukan; konsumen memang memerlukan pangan yang lebih praktis. Namun demikian, konsumen perlu selalu berusaha mengembangkan perilaku hidup sehat; termasuk perilaku makan sehat dengan menu pangan yang sehat. Secara umum, perilaku makan sehat yang perlu disampaikan adalah (i) konsumsi aneka ragam jenis pangan dan (ii) jangan berlebih-lebihan terahadap salah satu jenis produk pangan.

Dalam menyusun menu sehari-hari, upayakan minimal harus terdiri dari 3 kelompok pangan; yatu pangan pokok, lauk pauk, sayur dan buah. Produk pangan olahan, bisa digunakan sebagai pilihan dalam menyusun menu yang menarik dan bervariasi. Untuk memilih produk pangan olahan, biasakan membaca label, meneliti ada tidaknya nomor pendaftaran oleh BPOM atau Dinas Kesehatan, dan menggunakannya sesuai dengan petunjuk penggunaan dan penyimpanannya.

*) Purwiyatno Haryadi adalah Direktur Southeast Asian Food and Agricuktural Science & Technology (SEAFAST) Center, LPPM, IPB dan Guru Besar Rekayasa Proses Pangan, Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fateta, IPB.

(vit/vit)

Sumber :www.detiknews.com


Saturday, January 1, 2011

Cara Membuat Yoghurt yang Benar

Yoghurt merupakan salah satu olahan susu yang diproses melalui proses fermentasi dengan penambahan kultur organisme yang baik, salah satunya yaitu bakteri asam laktat. Di pasaran yoghurt terbagi dalam dua jenis, yang pertama adalah yoghurt plain yaitu yoghurt tanpa rasa tambahan dan yang kedua adalah drink yoghurt yaitu yoghurt plain yang oleh produsen telah ditambahkan perasa tambahan buah-buahan seperti rasa strawberry, jeruk ataupun leci .

Kelebihan Yoghurt :
Bila di nilai dari kandungan gizinya, yoghurt tidaklah kalah dengan susu pada umumnya. Hal ini karena bahan dasar yoghurt adalah susu, bahkan ada beberapa kelebihan yoghurt yang tidak dimiliki oleh susu murni yaitu :

  1. Sangat cocok dikonsumsi oleh orang yang sensitif dengan susu (yang ditandai dengan diare) karena laktosa yang terkandung pada susu biasa sudah disederhanakan dalam proses fermentasi yoghurt.
  2. Bila dikonsumsi secara rutin bahkan mampu menghambat kadar kolestrol dalam darah karena yoghurt mengandung bakteri lactobasillus. Lactobasillus berfungsi menghambat pembentukan kolestrol dalam darah kita yang berasal dari makanan yang kita makan seperti jeroan atau daging.
  3. Meningkatkan daya tahan tubuh kita karena yoghurt mengandung banyak bakteri baik sehingga secara otomatis dapat menyeimbangkan bakteri jahat yang terdapat dalam susu kita.

Cara Pembuatan Yoghurt yang Benar
Walaupun terlihat sulit, pembuatan yoghurt sebenarnya sangat sederhana. Alat-alat yang kita butuhkan tidaklah terlalu rumit, seperti panci berukuran kira-kira 40 cm, sendok pengaduk, toples kaca dengan tutup. Semua peralatan ini dapat diperoleh dengan mudah dipasar-pasar atau pusat pembelanjaan seperti Carrefour. Bahan utama yang dibutuhkan untuk pembuatan yoghurt hanyalah susu. Susu ini dapat berupa susu cair langsung tetapi yang perlu diperhatikan susu yang digunakan harus susu putih.

Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut :

  1. Siapkan susu yang sudah dicairkan dengan air matang sebanyak 1 liter lalu tambahkan susu krim sebanyak 15%.
  2. Masak dengan api kecil sambil diaduk terus selama 30 menit tetapi jangan sampai mendidih. Hal ini hanya bertujuan untuk menguapkan air sehingga nantinya akan terbentuk gumpalan atau solid yoghurt.
  3. Jika sudah, solid yoghurt lalu diangkat dan didinginkan kira-kira sampai hangat-hangat kuku baru kemudian ditambahkan bibit yoghurt sebanyak 2 – 5% dari jumlah yoghurt yang sudah mengental tadi. Bibit yoghurt memang tidak dijual di pasaran secara bebas tetapi dapat anda peroleh disalah satu toko. Atau secara sederhananya kita dapat menggunakan yogurt yang plain (tanpa rasa tambahan), tanpa gula dan tanpa aroma sebagai bibit yoghurt.
  4. Diamkan selama 24 jam dalam wadah tertutup untuk menghasilkan rasa asam dan bentuk yang kental .
  5. Semakin tinggi total solidnya maka cairan bening yang tersisa semakin sedikit, dan yoghurt yang dihasilkan semakin bagus. Solid yoghurt yang belum diberikan tambahan rasa ini dapat juga dijadikan bibit yoghurt untuk pembuatan selanjutnya.
  6. Setelah berbentuk yoghurt dapat ditambahkan sirup atau gula bagi yang tidak kuat asamnya, bahkan bisa ditambahkan dengan perasa tambahan makanan seperti rasa jeruk, strawberry dan leci yang dapat kita peroleh di apotek-apotek. Yoghurt dapat disajikan tidak hanya sebagai minuman, tetapi juga dapat disajikan bersama salad buah sebagai sausnya ataupun sebagai bahan campuran es buah.
  7. Yoghurt yang sudah jadi dapat ditempatkan di wadah plastik ataupun kaca. Kalaupun kita ingin menggunakan wadah plastik sebaiknya yang agak tebal, akan tetapi bila ingin menyimpan yoghurt untuk waktu yang lebih lama sebaiknya menggunakan wadah kaca.

Kebersihan merupakan hal yang harus sangat kita perhatikan, sehingga sebaiknya semua alat yang digunakan direbus terlebih dahulu dalam air mendidih selama 5-10 menit. Apabila kebersihan tidak dijaga dapat mengakibatkan yoghurt tidak jadi, dengan ciri-ciri tidak berasam walaupun berbentuk solid, di permukaan solid ditumbuhi jamur yang berbentuk bintik-bintik hitam dan berbau asam yang sangat tajam.
Untuk yoghurt yang kita buat sendiri sebaiknya paling lama penyimpanannya selama 1 minggu.

Selain masalah kebersihan, masalah penyimpanan yoghurt juga perlu untuk diperhatikan.

Ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu :

  1. Yoghurt tidak boleh terkena sinar matahari.
  2. Tidak boleh ditaruh dalam suhu ruangan, harus disimpan dalam suhu dingin/kulkas tetapi juga tidak boleh diletakkan dalam freezer. Yoghurt tidak boleh disimpan dalam freezer karena bahan dasar yoghurt yang berupa susu dapat pecah dan justru itu akan merusak yoghurt.

Tips Memilih Yogurt
Bila anda tidak sempat membuat dan ingin membeli yogurt di pasaran maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan :

  1. Pilihlah yoghurt yang kental.
  2. Pilihlah yoghurt yang disimpan di suhu dingin jangan yang di luar karena biasanya sudah disterilkan lagi sehingga mikroorganismenya sudah tidak ada.
  3. Dicermati labelnya yang plain yoghurt atau yang drink yoghurt disesuaikan dengan kebutuhan kita.
  4. Dicermati tanggal kadaluarsanya.

sumber gambar: http://vhierman.files.wordpress.com/2009/06/yogurt1.jpg

Sumber : http://bisnisukm.com

Tuesday, December 28, 2010

Kopi dan Teh yang Lama Diseduh Mengandung Kafein Lebih Tinggi

Kopi dan Teh yang Lama Diseduh Mengandung Kafein Lebih Tinggi

Jakarta,
Kopi dan teh adalah minuman favorit banyak orang yang sama-sama mengandung kafein. Banyaknya kandungan kafein dalam kopi dan teh sangat bergantung dari proses pengolahan dan cara menyeduhnya. Semakin lama diseduh akan membuat kadar kafeinnya makin tinggi.

Seperti dikutip dari BBCHealth, Selasa (28/12/2010) kopi dan teh yang waktu penyeduhannya lebih lama akan membuat kandungan kafein dalam minuman tersebut semakin tinggi.

Kenapa kopi dan teh yang kelamaan diseduh kafeinnya tinggi?

Hal ini karena kopi atau teh yang lebih lama diseduh akan menyebabkan semakin banyaknya kafein yang keluar dari serbuk kopi atau teh yang lalu berpindah ke dalam cangkir.

Proses pengeluaran kafein itu akan semakian banyak dalam minuman akhir yang terlalu lama diseduh. Gambarannya kopi atau teh yang diseduh 5 menit kafein yang keluar akan semakin banyak dibanding kopi atau teh yang diseduh 3 menit.

Kafein merupakan salah satu jenis senyawa alkaloid yang secara alamiah sudha terdapat di dalam biji kopi, daun mete, daun teh, biji kola, biji cokelat dna juga beberapa minuman penyegar atau soda.

Pada kopi, proses pemanggangan biji kopi turut mempengaruhi kadar kafein yang tersisa. Karena memanggang biji kopi akan menghancurkan beberapa kafein sehingga kadarnya lebih rendah dibandingkan dengan biji kopi yang tidak dipanggang atau waktunya sebentar saja.

Sedangkan kandungan kafein dari teh dipengaruhi oleh banyak faktor, karenanya tidak selalu teh hitam mengandung kafein lebih tinggi dibanding teh hijau, atau teh putih memiliki kadar kafein paling kecil.

Faktor terbesar yang mempengaruhi kadar kafein dalam teh adalah bagian dari tanaman teh yang digunakan. Pada tanaman teh, kandungan kafein paling banyak terdapat di tunas daunnya, sedangkan daun yang tua dan batangnya memiliki kadar kafein yang lebih rendah.

Namun teh umumnya mengandung zat antioksidan yang disebut dengan flavonoid, zat ini telah terbukti bisa membantu memperlambat atau menghambat reaksi kimia yang disebabkan oleh radikal bebas di dalam tubuh.

Kafein bertindak sebagai stimulan ke jantung dan juga sistem saraf pusat. Selain itu kafein juga dapat meningkatkan tekanan darah dalam jangka waktu pendek dan belum ada bukti untuk jangka waktu panjang.

Efek kafein terhadap tekanan darah paling mungkin terjadi jika seseorang mengonsumsinya dalam jumlah yang berlebihan, atau orang tersebut sangat sensitif. Karenanya orang yang memiliki riwayat hipertensi dan juga ibu hamil harus membatasi asupan kafeinnya yaitu kurang dari 300 mg per hari.


(ver/ir)

Sumber : www.detikhealth.com

Saturday, December 25, 2010

Olahan bubuk tempe bisa setop diare

JAKARTA: Pengolahan tempe menjadi bentuk susu (bubuk) dapat diterima cukup baik oleh penderita diare, tetapi masih memerlukan teknologi pengolahan untuk menghasilkan minuman fungsional berbasis tempe tersebut.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mira Dewi, Faisal Anwar, Ali Komsan, dan Dadang Sukandar dari Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) tentang pengembangan produk tempe dalam bentuk susu bubuk menunjukkan bahwa pemberian tempe dalam bentuk bubuk dapat diterima dengan cukup baik oleh penderita.

Penelitian tersebut berhasil memformulasi pembuatan produk bubuk susu tempe berikut dengan analisis sifat kimia dan fisik produk, uji daya terima produk, dan uji klinis produk pada kasus diare pada sampel anak usia 2-5 tahun.

Berdasarkan penelitian itu, agar rasa dan aromanya bisa diterima oleh penderita diare, maka selain tersusun dari tepung tempe, dalam proses pengolahannya ditambahkan bahan-bahan di antaranya susu instan full cream, garam, sukralosa, serta flavor, mocca.

Untuk melihat dosis bubuk tempe yang dapat diterima oleh konsumen digunakan dosis 12,5 gram dan 25 gram dan dosis susu instan digunakan konsentrasi 0, 2,5 dan 4 gram untuk setiap 25 gram dan 12,5 gram bubuk tempe.

Dari perbandingan hasil uji sifat kimia, fisik, dan organoleptik diketahui bahwa waktu fermentasi optimal untuk mendapatkan mutu dan penerimaan terbaik adalah lama fermentasi 36 jam.

Uji klinis mengenai manfaat produk ini untuk membantu penyembuhan diare pada anak-anak penting dilakukan, mengingat tempe mengalami berbagai tahapan proses dalam pengolahannya menjadi susu bubuk, yang bisa jadi berpengaruh terhadap manfaatnya dari segi klinis.

Hasil intervensi tempe atau produk susu tempe selama dua hari yang dilakukan tim peneliti pada anak penderita diare akut secara nyata mempercepat penurunan frekuensi diare yang dianalisis berdasarkan perkembangan klinis selama 5 hari.

Menurut tim peneliti dari IPB itu, hasil penelitian tersebut mempunyai arti penting dalam mewujudkan diversifikasi olahan produk tempe, yang tidak hanya bergizi tinggi tetapi juga mempunyai khasiat obat.(jha)


Sumber : www.bisnis.com

Friday, December 17, 2010

Kemiri dan Merica Dicuci Bahan Kimia

JAKARTA, KOMPAS.com — Hati-hati berbelanja aneka keperluan bumbu untuk memasak di pasar dan supermarket. Demi penampilan yang menawan alias putih dan bersih, penjual kemiri dan merica tak segan mencuci dagangannya dengan kaporit dan bahan kimia tertentu lainnya.

Kepala Satuan Industri dan Perdagangan Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Sandi Nugroho, Jumat (3/9/2010), mengungkapkan, timnya mendapatkan temuan yang mengejutkan, yakni adanya aksi pedagang mencuci kemiri dan merica dengan bahan kimia.

"Kami menyita 200 karung merica dan kemiri dari gudang di Jakarta Barat. Pemilik gudang mengaku melakukan itu berdasarkan permintaan pasar," kata Sandi.

Beberapa contoh kemiri dan merica kini sedang diperiksa di laboratorium untuk melihat jenis-jenis bahan kimia yang digunakan untuk mencuci dua jenis bumbu itu. "Langkah itu juga untuk mengetahui sebesar apa kadarnya karena kami khawatir campuran untuk mencuci kemiri dan merica bisa membahayakan kesehatan," lanjut Sandi.

Temuan fakta itu berawal dari razia makanan kedaluwarsa yang banyak beredar di pasar menjelang Lebaran. Ketika memeriksa sebuah gudang di Jakarta Barat, polisi menemukan kemiri dan merica yang sudah dicuci dalam karung-karung. Sandi belum bersedia menjelaskan nama pemilik barang. Namun, si pemilik mengaku sudah setahun melakukan kebiasaan itu.

Tidak diketahui, di pasar dan supermarket mana saja barang tersebut beredar karena pemilik barang menjual kemiri dan merica dalam jumlah besar kepada pembelinya yang kemudian mengemas dalam plastik kecil untuk dijual kembali.

46 Jamu Mengandung Bahan Kimia Obat

Jakarta, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan 46 obat tradisiional atau jamu baik dalam bentuk serbuk atau kapsul yang ternyata dicampur dengan bahan kimia obat (BKO) seperti parasetamol, sibutramin, sidenafil dan tadalafil dengan dosis yang tinggi.

Bahan kimia obat yang dicampurkan ke dalam obat tradisional ini kebanyakan masuk ke dalam kategori obat keras dengan dosis yang jauh daripada dosis yang dianjurkan. Sehingga jika masyarakat mengonsumsi obat ini secara terus menerus, maka nantinya bisa merusak ginjal dan hati.

"Pengawasan obat tradisional yang beredar pada semester pertama (Januari-Juni) 2010 masih ditemukan obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat yang dilarang untuk dicampurkan," ujar Kepala BPOM Dra Kustantinah, Apt, M.App.Sc dalam acara jumpa pers di gedung BPOM, Jl. Percetakan Negara, Jakarta, Jumat (13/8/2010).

Hasil pengawasan obat tradisional yang dicampur dengan bahan kimia obat dalam kurun waktu 10 tahun menunjukkan kecenderungan yang berbeda, yaitu:
  1. Pada tahun 2001-2007 temuan obat tardisional yang dicampurkan dengan BKO menunjukkan ke arah obat rematik dan penghilang rasa sakit (misalnya sakit kepala), seperti mengandung fenilbutason dan metampiron.
  2. Sejak tahun 2007 temuan obat tradisional yang dicampurkan dengan BKO menujukkan adanya perubahan, karena cenderung ditemukan pada obat penambah stamina untuk laki-laki dan juga obat pelangsing untuk perempuan. Biasanya mengandung sibutramin, sidenafil dan tadalafil.
  3. Sebagian besar hasil temuan ini merupakan produk ilegal atau tidak terdaftar di Badan POM, tapi mencantumkan nomor pendaftara fiktif pada labelnya.

"Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan terhadap apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Jika masyarakat mengonsumsi obat ini biasanya langsung terasa cespleng," ujar Kustantinah.

Kustantinah menyarankan kepada masyarakat agar berhati-hati dan waspada serta tidak mengonsumsi obat tradisional yang termasuk ke dalam kategori public warning. Karena produk-priduk ini dapat menimbulkan dampak buruk terhadap kesehatan bahkan bisa berakibat fatal.

"Kita tidak ingin masyarakat pada akhirnya mendapatkan penyakit yang kritikal setelah mengonsumsi obat-obat tradisonal ini," ungkapnya.

Sumber : http://us.health.detik.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Yuyun Lusini, M.Si, Hp. 081316300285
Ir. Nurul Asni, M.Si, Hp. 08128526140


Jl. Tugu RayaKomplek Timah, Kelapa Dua Cimanggis, Depok – 16951Telp. : (021) 8710001, Fax.: (021) 8728523 Email : akacaraka@yahoo.co.id Website : www.akacn.ac.id